Ilmu Fisika Menjelaskan Jalannya Pemilu Versi Petinggi HAMAS (Himpunan Anak Minoritas Asli Sumatera).
Jakarta-- Berdasarkan UU yang berlaku, pemerintah Indonesia sudah melalukan pemilu serentak pada tanggal, 9 Desember 2020 di berbagai daerah. Semua sudah rampung tinggal menunggu hasil pilihan yang disahkan KPU. Memang yang berhak menyimpulkan siapa yang jadi pemenang dari suatu proses pemelihan adalah KPU (Komisi Pemilihan Umum).
Sembari menunggu hasil putusan KPU mari kita berbincang-bincang dulu dengan salah seorang Petinggi HAMAS yang belakangan ini juga aktif memberikan komentar tentang Negeri ini. Beliau kerap memberikan kritik pedas terhadap pemimpin yang menurutya tidak jelas kinerjanya.
Sebagaimana sebelumnya mengkritik kinerja Gubernur Sumatera Utara yang kurang perhatian dalam mengurus Kota Medan. Belakangan ini semua tahu bahwa Kota Medan dilanda musibah banjir besar yang belum pernah terjadi sebelumnya sebesar itu. Gubernur nya selalu mengkritik dan ingin mengubah tatanan Danau Toba padahal Kota Medan gagal
Menurut dia pemilu itu sangat menarik. Pemilu itu sebagai praktek nyata dari salah satu "TEORI FISIKA". Bukan tanpa alasan dia berkata demikian. Mari kita baca terus!
Kenapa dia berkata demikian?
Di Fisika ada teori "LISTRIK STATIS" dalam kehidupan sehari-hari, ini sering kita temui misalnya penggaris menarik kertas tipis tapi proses ini tidak berlangsung lama. Kenapa dikatakan listrik statis dikarenakan bisa memunculkan gejala kelistrikan padahal tidak dialiri oleh arus listrik kira-kira demikian arti simpelnya. Tambahan sedikit lagi kenapa pengaris bisa menarik kertas? Karena ada perbedaan muatan, sebagaimana kita tahu sebelumnya muatan positif akan menarik muatan negatif dan sebaliknya.
Lalu seperti apa hubungan Listrik statis ini dengan Pemilu?
Usaha untuk memindahkan suatu muatan baik neagtif maupun positif dari posisi A ke posisi B tidak bergantung pada lintasan atau proses. Contoh sederhananya, seorang anak saat berangkat ke sekolah naik motor atau naik mobil ataupun jalan kaki usahanya adalah sama. Yang penting awalnya dari rumah (posisi A) akhirnya di sekolah (posisi B).
Sedangkan untuk mendekatkan muatan positif terhadap muatan positif harus butuh Usaha dari luar begitu juga halnya untuk mendekatkan muatan negatif ke negatif. Namun berbeda hal dengan muatan positif jika didekatkan dengan muatan negatif tanpa diberi Usaha luar pun itu sudah saling mendekat. Ibarat hubungan kasih sayang antara laki-laki dan perempuan. heheheheh..
Pemilu lebih menarik lagi, misalnya dalam pemilu ada dua calon. Calon X sebagai muatan positif dan para pendukungnya sebagai muatan negatif. Begitu juga dengan calon Y sebagai muatan positif dan pendukungnya muatan negatif.
Kita sering melihat di media ataupun di TV antara calon X dan calon Y tidak pernah akur selalu saling hujat menghujat, hina menghina, bahkan kafir mengkafirkan. Begitu juga dengan para pengikutnya bahkan bisa jadi saling pukul pukulan atau demo antar pendukung. Menarik bukan? Benar juga ia, kataku.
Bahkan sehabis pemilu pun, jika kita ajak untuk ngumpul-ngumpul harus butuh Usaha yang ekstra kuat untuk melakukannya baik antara calon maupun antar pendukung. Ibarat musuh bubuyutan. Akan tetapi antara Calon dengan para pendukungnya tanpa kita suruh ngumpul pun sudah saling ngumpul. Itu menariknya Pemilu kita ini, lanjutnya....
Semoga kalian tertarik dengan artikel ini....
Jangan lupa berkomentar..

Tidak ada komentar untuk "Ilmu Fisika Menjelaskan Jalannya Pemilu Versi Petinggi HAMAS (Himpunan Anak Minoritas Asli Sumatera)."
Posting Komentar