Widget HTML Atas

Pemilu SUMUT: Pemenang Di SUMUT KAFIR Atau Islam Yang Buruk Tingkah Lakunya? Versi UAS

Jakarta-- Berdasarkan hasil hitung cepat, Quick Count terkhusus daerah Provinsi Sumatera Utara, Medan telah beredar luas ke masyarakat. Di Sumut ada sekitar 23 Kabupaten/kota yang melaksanakan pilkada serentak. Namun yang menjadi fokus bahasan artikel ini hanya menyoroti Kota Medan dan Kabupaten Simalungun.

Kenapa? Karena ada pemuka Agama/Ustad yang gagal memempatkan posisi, Sedalam dan semahir apapun anda dalam membaca,mengartikan, ia jika memahami isi dari sebuah Kitab, anda dan saya adalah tetap manusia berdosa. Sebagai umat/laskar berdosa anda atau saya tidak berhak menghakimi. Anda tidak berhak mengkafir-kafir kan. Demokrasi memang bebas bersuara, berpendapat akan tetapi jauh lebih elok jika pemuka Agama tidak terlalu mengurusi politik dan juga tidak membawa isu SARA ke ranah politik. 

Lebih kafir mana UAS dengan para pemenang pilkada?

Bercerita tentang UAS tidak akan ada habisnya, Ustad yang selalu mengklaim diri paling benar. Ustad yang mengharamkan main catur, Ustad yang menghina/menistakan Agama Kristen "JIN KAFIR" di salib itu ada jin kafir. Dan mungkin masih banyak lagi yang tidak terekam media. Paling gilanya lagi baru - baru ini muncul lagi statement kontroversialnya menjelang Pilkada serentak SUMUT 2020. 

Baca juga:UAS RAJANYA MENGKAFIRKAN, Memilih pemimpin non-Islam yang baik tindakannya adalah "KAFIR", Sementara memilih Pemimpin Islam yang buruk lakunya adalah........

UAS pernah mendoakan Calon Presiden Bapak Probowo Subianto pada pemilu 2019 yang pada akhirnya dimenangkan oleh presiden yang sekarang Bapak Ir. Joko Widodo. Bahkan UAS berkata dapat bisikan dari Tuhan kalau Bapak Prabowo yang akan menjadi pemenang, heheheheh..... Harusnya sebagai Pemuka Agama harus pandai menempatkan posisi. Seberapa malu seorang Ustad, seberapa malu seorang pendeta mendoakan Seorang calon dan calon itu tidak menang. 

Jika doanya mendoakan semua petarung Pilkada/pemilu tidak masalah, misalnya isi doanya lebih mengarah ke "......... Tuhan/Allah semoga pemilihan umun hari ini berjalan dengan aman sesuai keinginan-Mu, semoga amanah siapa pun yang terpilih itulah pilihan-Mu ia Allah......." Kalau isi doanya seperti itu alangkah indah doa itu. Namun bagaimana jika isi doanya seperti yang tertulis di bawah.

KAFIR?

Jika kafir diartikan banyak orang/umat/laskar/ yang tidak beriman kepada Allah saja. Maka semua orang yang beragama diluar UAS adalah makhluk Kafir. Allah adalah Tuhannya UAS. Makhluk Kafir itu sebutan untuk orang diluar agamanya UAS, biar ada perbedaan antara UAS dan pengikutnya, karena memang tujuan dari ini adalah memunculkan jenjang sosial, arti sederhananya adanya perbedaan antara orangnya UAS dan non UAS. 

Makhluk Kafir secara tidak langsung adalah kumpulan orang yang tak beriman, lalu pertanyaannya. Jika UAS adalah orang yang beriman, Kenapa Prabowo kalah dalam pemilu 2019? Kenapa calon yang diunggulkan UAS di Kota Medan kalah? Kenapa calon yang diusung UAS di Simalungun Kalah? Intinya jangan menguji Pencipta....

UAS: Memilih pemimpin non-Islam adalah Kafir sekalipun kelakuannya baik, Memilih pemimpin Islam yang buruk kelakuannya akan merusak Islam dan Keimanannya.


Merujuk pada statement UAS yang sudah meluas di Media, seperti yang terlihat pada gambar di atas. UAS menegaskan jika memilih pemimpin non-Islam sebaik apa pun tingkah dan lakunya maka dia adalah KAFIR. Lain hal dengan memilih pemimpin muslim yang tingkah dan lakunya buruk, maka itu akan merusak Islam dan keimanannya. Dari kedua statement di atas maka bisa dipastikan pemenang pilkada simalungun dan para pendukungnya adalah KAFIR.  Selamat ia, kalian makhluk KAFIR bersama-sama dengan aku. hihihi....

Berdasarkan hasil Quick Count pemenangnya adalah RHS (jangan salah ia, RHS bukan HRS) Radiapoh Hasiholan Sinaga yang mana beragama non-muslim, itu artinya RHS dan pendukungnya adalah  ......KAFIR. Hasil hitung cepat biasanya sama dengan hasil yang sebenarnya kalau pun berbeda, kemungkinan berbedanya hanya sedikit.

UAS: Mendoakan Rival dari BOBBY NASUTION

Pada gambar terlihat sangat jelas bahwa UAS lagi berdoa bersama calon jagoannya. “Jadikanlah keduanya walikota dan wakil walikota Medan periode 2021-2024, menjadi pemimpin yang adil dan amanah. Dengan jabatan dapat menolong agama, fakir miskin dan dhuafa,” kata UAS. 

“Engkau yang dapat membolak-balik hati ya Allah, maka tetapkanlah hati masyarakat Medan untuk memilih Aman sebagai Walikota dan Wakil Walikota Medan pada Pilkada 9 Desember 2020 nanti,” lanjut UAS mendoakan. 

Jika kita lihat dari usaha UAS yang sampai terjun kedunia politik ini dan bahkan sampai mendoakan salah satu calon yang mana, itu adalah lawan kampanye dari BOBBY NASUTION (Menantu Presiden RI saat ini) . Jika kita mengacu pada statement yang dilayangkan UAS pada pemilu Simalungun, bisa disimpulkan bahwa BOBBY NASUTION ini tipe Islam yang tidak baik tingkah dan lakunya.

UAS: Memilih pemimpin non-Islam adalah Kafir sekalipun kelakuannya baik, Memilih pemimpin Islam yang buruk kelakuannya akan merusak Islam dan Keimanannya. Akankah BOBBY NASUTION merusak Islam dan Keimananya? Silahkan di follow-up terus ya teman-teman.

Berdasarkan hasil hitung cepat di kota Medan, pemenang suara terbanyak adalah Bobby Nasution bersama wakilnya. Selamat ia, buat Walikota dan wakil walikotanya. Jika kita telusuri lebih jauh, maka kita dapati kedua calon/ lae lae Nasution ini beragama Islam. Namun berbeda menurut UAS. Intinya Bobby Nasution itu Islam yang kurang baik tingkah dan lakunya yang nantinya akan merusak Islam dan keimananya. Itu sebabnya UAS tidak mendukungnya.

Salam waras Makhluk Kafir.!

 

Tidak ada komentar untuk "Pemilu SUMUT: Pemenang Di SUMUT KAFIR Atau Islam Yang Buruk Tingkah Lakunya? Versi UAS"